Rabu, 04 Januari 2012

ADAT KEBIASAAN (AL-URF)

Adat Kebisaaan Itu,Bisa Ditetapkan
1.    Adat tidak dapat dianggap sebagai adat yang bisa dijadikan ketetapan, jika adat itu tidak murthorid, artinya adat itu tidak tetap atau pasti. Ex: suatu Negara memiliki mata uang dollar amerika, dollar Australia, dollar hongkong, dll. Dalam hal ini tidak boleh menyebutkan dollar saja tanpa mbel-embel dibelakangnya.
2.    Adat yang jelas (U’rf jalily) itu manakalabertentangan dengan syara;, maka hukumnya ditafshil :
-    Jika syara’ itu tidak berhubungan dengan hukum, maka adatlah yang dimenangkan.ex : seseorang bersumpah tidak makan daging, namun suatu saatia makan ikan laut, menurut hukum orang itu dianggap tidak melanggar sumpah, sebab ikan laut tidak termasuk daging.
-    Jika syara’ itu berhubungan dengan hukum, maka syara’ harus didahulukan.ex: seseorang bersumpah tidak akan solat, tapi ternyata ia berdoa. Maka ia dianggap tidak melanggar sumpah sebab solat itu ibadah dimulai dari takbir dan diakhiri salam, walaupun dalam arti lain solat itu artinya doa.
3.    Adat itu apabila bertentangan dengan arti menurut pengertian bahasa, para ulama berbeda pendapat :
-    Qadli Husain : pengertian bahasalah yang dimenangkan
-    Imam Baghowiy : pengertian adatlah yang dimenangkan. Ex: seseorang bersumpah untuk tidak makan telur. Sedangkan yang namanya telur itu banyak, namun menurut adat telur itu sebatas telur ayam, telur bebek, tapi ternyata orang itu makan telur burung, maka dalam hal ini menurut pendapat pertama ia dianggap melanggar sumpah dan menurut pendapat kedua ia tidak melanggarnya.
-    Imam Rofi’iy : jika pengertian bahasa itu sudah umum, maka pengertian bahasalh yang harus dipakai.
-    Lainnya : kalau adat itu tidak pernah digunakan dalam bahasa, maka pengertian bahasalah yang dimenangkan.
4.    Apabila Urf ‘am ( adat umum ) bertentangan dengan urf khos ( adat khusus ), maka urf khusus lah yang didahulukan kecuali jika urf khos itu amat terbatas
5.    Adat kebisaaan itu apakah berlaku sebagai syarat atau tidak? Ada yang bilang tidak dan ada yang ya sebagai syarat.
6.    Urf yang dianggap sah adalah urf yang bersamaan dengan ucapan atau yang agak mendahului, sedangkan yang terjadi sesudah ucapan, tdak beraku. Ex: ada tanah yang diwakafkan seseorang kepada A sebagai lahan untuk pendidikan. Beberapa masa setelahnya, terjadi pergantian pengasuh, menjadi si B. maka menurut kaidah ini, si B tidak berhak atas tanah tsb, dan si A tetap berhak karena ada pada saat diucapkannya wakaf itu.
7.    Hal-hal yang tidak ada ketentuannya baik dalam syara’ maupun dalam bahasa, maka harus dikembalikan kepada urf.ex : “hirzul mistli” … (tempat penyimpanan ) dalam bab encurian, baik syara’ maupun lughot tidak ada yang menyebutkan tentang batasan arti tsb. Karena itu apa dan bagaimana kata tsb harus dikembalikan dan dicari menurut pengertian urf. Tempat penyimanan mobil, dll.

Tidak ada komentar: