Rabu, 14 Desember 2011


Nama                      : Andro Agil Nur Rakhmad
NIM                       : C74210177
JURUSAN             : Ekonomi Syari’ah – F
MAKUL                : Ushulul Fiqh
1.      Jelaskan Pengertian dari Ushulul Fiqh yang anda pahami ? dan deskripsikan secara singkat sejarah dan perkembangan Ushulul Fiqh dari masa awal hingga saat ini ?

Ø  Ushulul Fiqh adalah: Ilmu tenting hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci atau dalil-dalil bagi hukum syara’mengenai perbuatan dan aturan-aturan/ketentuan/ketentuan umum bagi pengambilan hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Ø  Sejarah Ushulul Fiqh dari masa awal adalah pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, seluruh permasalahan fiqih (hukum islam) dikembalikan kepada Rosul. Pada masa ini dapat dikatakan bahwa sumber fiqih adalah wahyu Allah SWT. Namun demikian juga terdapat usaha dari beberapa sahabatyang menggunakan pendapatnya dalam menentukan keputusan hukum. Hal ini didasarkan pada hadist Muadz bin jabbal sewaktu beliau diutus oleh rosul untuk menjadi gubernur di yaman. Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa Ushulul Fiqhsecara teori telah digunakan oleh beberapa sahabat, walaupun pada saat itu Ushulul fiqh masih belum menjadi nama keilmuan tertentu. Salah satu teori Ushulul Fiqh adalah, jika terdapat permasalahan  yang membutuhkan kepastian hukum, maka pertama adalah mencari jawaban keputusannya dalam Al-Qur’an, kemudian Hadist. Jika dari kedua sumber hukum Islam tersebut tidak ditemukan maka dapat berijtihad.
Perkembangan Ushulul Fiqh pada masa Nabi: Di zaman Rasulullah SAW sumber hukum Islam hanya dua, yaitu Al-Qur’an dan Assunnah. Apabila suatu kasus terjadi, Nabi SAW menunggu turunnya wahyu yang menjelaskan hukum kasus tersebut. Apabilawahyu tidak turun, maka Rasulullah SAW menetapakan hukum kasus tersebut melalui sabdanya, yang kemudian dikenal dengan Hadist atau Sunnah. Artinya dengan keluesannya Nabi dalam melakukan pemecahan masalah-masalah ijtihadiyah telah memberikan legalitas yang kuat terhadap para sahabat.

2.      Apakah yang dimaksud dalil hukum menurut kajian Ilmu Ushulul Fiqh ? Jelaskan kehujjahan Al-Qur’an sebagai dalil hukum ?

Ø  Pembahasan tenting dalil dalam Ilmu Ushulul Fiqh adalah secara global. Di sini dibahas tenting macam-macamnya, rukun atau syarat masing-masing dari macam-macam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya. Jadi di dalam Ilmu Ushulul Fiqh tidak dibahas satu persatu dalil bagi setiap perbuatan.


Ø  Kehujjahan Al-Qur’an sebagai dalil hukum: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diberikan kepada umat pilihan-Nya yakni Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, dan orang yang membacanya bernilai ibadah. Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan tentang berbagai macam kejadian sebelum adanya muka bumi bahkan sampai suatu saat bumi ini akan musnah, semuanya telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an juga menjadi sumber hukum dari segala hukum yang ada di mukan bumi. Tak ada satu kitab apapun yang bisa menandingi Al-Quran.  Al-Qur’an hidup dan menguasai, membimbing hidup manusia. Al-Qur’an akan mendidik dan memimpin hati menuju kebaikan karena demikianlah fitrah manusia yang soleh dan bergunan bagi umat manusia lainnya. Apapun yang dilakukan manusia harus berdasarkan hukum yang ada dalam Al-Quran. Secara jelas hukum yang ada bersumber pada Al-Qur’an. Seperti halnya hukum sholat, puasa, zakat, muamalat, dll.
Jadi jelaslah, umat manusia akan mencapai kemenangan hakiki jika mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup mereka, sebagaimana generasi Islam terdahulu yang telah mewarnai hidup mereka dengan corak Al-Qur’an, sehingga mereka dapat disebut “Al-qur’an hidup”. Dengan demikian Al-Qur’an hanya akan member makna sebagai panduan hidup di dalam individu, keluarga dan masyarakat sehingga terwujudnya individu Qur’ani, keluarga Qur’ani, dan masyarakat Qur’ani yang merealisasikan pesan-pesan mulia Al-Qur’an di dalam kehidupan mereka sebagaimana yang telah ditunjukkan dengan indahnya oleh generasi para Sahabat. 

3.      Apa yang anda pahami tentang pengertian :
a.       Al-Hakim / Syari’ : adalah panduan hukum, baik menyangkut hubungan hamba dengan tuhannya maupun maupun hubungan manusia dalam berinteraksi sosial sehari-hari atau peraturan yang diciptakan oleh Allah SWT supaya manusia berpegang teguh kepadaNYA di dalam perhubungan dengan Tuhan dengan saudaranya sesama Muslim dengan saudaranya sesama manusia, beserta hubungannya dengan alam seluruhnya dan hubungannya dengan kehidupan.
b.      Al-Ahkam : Taklifi dan Wadhi’ dan Uraikan Pembagian dan Macam-macamnya.
Hukum Taklifi : adalah hukum yang mengandung perintah, larangan,atau memberi pilihan terhadap seorang mukallaf untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat, misalnya ; hukum taklifi menjelaskan bahwa shalat 5 waktu wajib, khamar haram, riba haram, makan-minum mubah.
Bentuk-bentuk hukum Taklifi :
Wajib : Sesuatu yang diperintahkan Allah dan RasulNYA untuk dilaksanakan oleh mukallaf, jika dilaksanakan mendapat pahala, sebaliknya jika tidak dilaksanakan diancam dengan dosa.
Mandub : suatu perbuatan yang dianjurkan oleh Allah dan RasulNYA dimana akan diberi pahala orang yang melaksanakannya, namun tidak dicela  orang yang tidak melaksanakannya.


Haram : sesuatu yang dilarang oleh Allah dan RasulNYA, dimana orang yang melanggarnyadiancam dengan dosa, dan orang yang meninggalkannya karena menaati Allah akan diberi pahala. Misal : larangan zina.
Makruh : sesuatu yang dianjurkan syariat untuk meninggalkannya, dimana jika ditinggalkan akan mendapat pujian dan pahala, dan jika dilanggar tidak berdosa. Misal: makruh berkumur-kumur dan memasukan hidung secara berlebihan ketika wudhu di siang hari Ramadhan.
Mubah : sesuatu yang diberi pilihan oleh syariat kepada mukallaf untuk melakukan atau tidak, dan tidak ada hubungannya dengan dosa sera pahala. Misal : jika terjadi puncak cekcok suami-istri, maka boleh (mubah) bagi istri membayar sejumlah uang kepada suami dan meminta suami menceraikannya (QS.Al-Baqoroh: 229)

Hukum Wadhi’ : adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur tenting sebab, syarat, dan mani’ (sesuatu yang menjadi pengahalang kecakapan untuk melakukan hukum taklifi), misalnya ; hukumwadhi’ menjelaskan bahwa waktu matahari tergelincirdi tengah hari menjadi sebab tanda bagi wajibnya mukallaf menunaikan shalat zuhur. Wudhu’ menjadi syarat sahnya shalat. Atau, kedatangan haid menjadi pengahalang/ mani’ seorang wanita melakukan kewajiban shalat dan puasa.

c.       Mahkum Fih dan Mahkum alaih.
MAHKUM FIH (OBYEK HUKUM)
Pengertian Mahkum Fih Yang dimaksud dengan Mahkum Fih ialah perbuatan mukallaf yang menjadi obyek hukum syara’. Mahkum fih ialah pekerjaan yang harus dilaksanakan mukallaf yang dinilai hukumnya. Sedangkan menurut ulama ushul fiqh yang dimaksud mahkum fih adalah objek hukum, yaitu perbuatan seorang mukallaf yang terkait dengan perintah syar’i baik yang bersifat tuntutan mengerjakan, tuntutan meninggalkan, memilih suatu pekerjaan, dan yang bersifat syarat, sebab, halangan, azimah, rukhsah, sah serta batal (Bardisi dalam Syafe’I, 2007: 317). Jadi, secara singkatnya dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan mahkum fih adalah perbuatan mukallaf yang berkaitan atau dibebani dengan hukum syar’i.
Syarat-Syarat Mahkum Fih
• Mukallaf mengetahui perbuatan yang akan dilakukan, sehingga tujuannya jelas dan dapat dilaksanakan.
• Mukallaf harus mengetahui sumber taklif, supaya mengetahui bahwa tuntutan itu dari Allah SWT, sehingga melaksanakannya berdasarkan ketaatan dengan tujuan melaksanakannya karena Allah semata.
• Perbuatan harus mungkin untuk dilaksanakan atau ditinggalkan.dengan catatan:
1) Tidak sah suatu tuntutan yang dinyatakan musthil untuk dikerjakan atau
ditinggalkan baik berdasarkan zatnya ataupun tidak.
2) Tidak sah hukumnya seseorang melakukan perbuatan yang ditaklifkan untuk dan atas nama orang lain.
3) Tidak sah tuntutanyang berhubungan dengan perkara yang berhubungan dengan fitrah manusia.
4)Tercapainya syarat taklif tersebut Disamping syarat-syarat yang penting diatas bercabanglah berbagai masalah yang lain sebagaimana berikut:
• Sanggup mengerjakan, tidak boleh diberatkan sesuatu yang tidak sanggup dikerjakan oleh mukallaf.
• Pekerjaan yang tidak akan terjadi, karena telah dijelaskan oleh Allah bahwa pekerjaan itu tidak akan terjadi, seperti jauhnya Abu Lahab terhadap rasa iman
• Pekerjaan yang sukar sekali dilaksanakan, yaitu yang kesukarannya luar biasa, dalam arti sangat memberatkan bila perbuatan itu dilaksanakan; dan yang tingkatannya tidak sampai pada tingkat yang sangat memberatkan atau terasa lebih berat daripada yang biasa.
• Pekerjaan-pekerjaan yang diijinkan karena menjadi sebab timbulnya kesukaran yang luar biasa.
Macam-Macam Mahkum Fih
• Ditinjau dari keberadaannya secara material dan syara’:
1) Perbuatan yang secara material ada, tetapi tidak termasuk perbuatan yang terkait dengan syara’. Seperti makan dan minum.
2) Perbuatan yang secara material ada dan menjadi sebab adanya hukum syara’, seperti perzinaan, pencurian, dan pembunuhan.
3) Perbuatan yang secara material ada dan diakui syara’ serta mengakibatkan hukum syara’ yang lain, seperti nikah, jual beli, dan sewa-menyewa.
• Sedangkan dilihat dari segi hak yang teerdapat dalam perbuatan itu, mahkum fih dibagi dalam empat bentuk, yaitu:
1) Semata-mata hak allah, yaitu segala sesuatu yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan umum tanpa kecuali.
2) Hak hamba yang tetrkait dengan kepentingan pribadi seseorang, seperti ganti rugi harta seseorang yang dirusak.
3) Kompromi antara hak allah dan hak hamba, tetapi hak Allah didalamnya lebih dominan, seperti hukuman untuk tindak pidana qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina.
4) Kompromi antara hak Allah dan hak hamba, tatapi hak hamba didalamnya lebih dominan, seperti dalam masalah qishas (Syafe’i: 2007: 331)
MAHKUM ALAIH (SUBJEK HUKUM)
Pengertian Mahkum Alaih Yang dimaksud dengan Mahkum Alaih adalah mukallaf yang menjadi obyek tuntunan hukum syara’ (Syukur, 1990: 138). Menurut ulama’ ushul fiqh telah sepakat bahwa mahkum Alaih adalah seseorang yang perbuatannya dikenai kitab Allah, yang disebut mukallaf (Syafe’I, 2007: 334). Sedangkan keterangan lain menyebutkan bahwa Mahkum Alaih ialah orang-orang yang dituntut oleh Allah untuk berbuat, dan segala tingkah lakunya telah diperhitungkan berdasakan tuntutan Allah itu.
Jadi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa Mahkum Alaih adalah orang mukallaf yang perbuatannya menjadinya tempat berlakunya hukum Allah.
Syarat-syarat Mahkum Alaih
• Orang tersebut mampu memahami dalil-dalil taklif itu dengan sendirinya, atau dengan perantara orang lain.
• Orang tersebut ahli bagi apa yang ditaklifkan kepadanya.
4.      Jelaskan pengertian dari :
a.       Ijtihad dan Ifta’ : kata ijtihad terbentuk dari kata dasar ³jahada´ yang berartiseseorang telah mencurahkan segala kemampuannya untuk memperoleh hakikatsesuatu. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu fiqih, ijtihad berarti mengarahkantenaga dan fikiran dengan sungguh-sungguh untuk menyelidiki dan mengeluarkan(mengistimbatkan) hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan haditsdengan syarat-syarat tertentu. Sebagian ulama mendefinisikan ijtihad dalam pengertian umum, bahwa ijtihadadalah menghasilkan (memaksimalkan) kesungguhannya dalam mencarisesuatu yang ingin dicapai, sehingga dapat diharapkan tercapainya atau diyakinisampai kepada tujuannya. Menurut praktek sahabat, ijtihad adalah penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat dengan kitab Allah Swt. dan sunnahRasulullah Saw., baik melalui suatu nasakh yang disebut qiyas maupun melaluisuatu maksud dan tujuan umum.  Menurut mayoritas ulama, ushul ijtihad adalah pengerahan segenapkesanggupan seorang fuqaha atau mujtahid untuk memperoleh pengertian ijtihad dhann (pendugaan kuat) mengenai hukum syara. Dari definisi ijtihad secara terminologi di atas mengandung pengertian bahwamujtahid mengerahkan kemampuannya. Artinya mencurahkan kemampuanseoptimal mungkin sehingga ia merasakan bahwa dirinya tidak sanggup lagimelebihi dari tingkat itu.
Secara etimologi kata iftâ’ (افـتـاء) terambil dari akar kata  أفـتى – يـفـتى – افـتـاء” yang berarti memberi penjelasan, memberi jawaban dan atau berarti memberi fatwa. Secara tegas rumusan tentang iftâ’ ini. Akan tetapi dapat dipahami bahwa iftâ’ itu intinya adalah usaha memberikan penjelasan tentang suatu hukum syara’ oleh ahlinya kepada orang yang belum mengetahuinya. Dari sini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan iftâ’ ialah jawaban yang diberikan oleh seorang ahli atas suatu pertanyaan tentang suatu persoalan hukum syara’. Orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu disebut dengan mufti (المـفـتى). Secara lebih tegas dikatakan bahwa iftâ’ itu adalah fatwa yang diberikan oleh seorang mufti atas suatu persoalan hukum yang ditanyakan kepadanya.   Pekerjaan meminta fatwa itu disebut dengan istaftâ’ (اســتـفـتى). Sedangkan orang yang meminta fatwa atau yang diberi jawaban fatwa disebut dengan mustaftî’ (الـمســتـفـتى).
b.      Adapun syarat-syarat menjadi mujtahid adalah:
a. Memahami al-Qur’an dan asbab an-nuzulnya serta ayat-ayat nasikh danmansukh.
b. Memahami hadits dan sebab-sebab wurudnya serta memahami hadits nasikhdanmansukh.
c.  Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab.
d.  Mengetahui tempat-tempat ijtihad.
e.  Mengetahui ushul fiqih.
f.  Memahami masyarakat dan adat istiadat dan bersifat adil dan taqwa.

Ittiba’ dan Taklid :
TAQLÎD
Secara bahasa kata taqlîd (تـقـلـيـد) berarti meniru, mencontoh dan mengikuti. Adapaun secara istilah seperti disebutkan oleh Wahbah Zuhaili adalah sebagai berikut ;
التـقـليـدهـوأخـذ قـول الـغـيـرمـن غـيـرمـعـرفـة د لـيـلـه
Artinya ; Taqlîd ialah berpegang kepada pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya.
Salam Madkur, menyebutkan bahwa ijtihâd  secara istilah adalah sebagai berikut ;
التـقـليـدهـوالـعـمـل بـقــول مـن ليـس قـوله احـدى الحـجـج الـشـرعـيـة بلا حجـة منـه.
           Artinya ; Taqlid ialah mengamalkan satu pendapat tanpa ada landasan hujjah syariyah.
Sementara itu, Imam Al-Gazali sebagaimana dikutip oleh Muhammad Salam Madkur menyebutkan bahwa taqlid itu ialah
قـبـول قــول بــلآ حجـة.
Artinya ; Mengikuti suatu pendapat tanpa mengetahui hujjahnya.
Wahbah Zuhaili menyebutkan, bahwa pada awal abad keempat Hijriyah, keadaan ini terus berlangsung pada abad-abad berikutnya. Hal ini terlihat, terutama  setelah berlalunya imam-imam yang empat dan melembaga serta mengakarnya mazhab yang empat dalam masyarakat.
Dengan munculnya sikap taqlîd dari para pengikut mazhab, maka semangat berijtihad di kalang ulama fiqih semakin hari semakin menurun dan berkurang--yang pada akhirnya para ulama hanya mencukupkan dari pada pendapat-pendapat yang ada.
Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat boleh tidaknya bertaqlid. Perbedaan ini agaknya dilatarbelakangi oleh dua hal yaitu; pertama dalam katiannya dengan pembidangan ajaran agama dan kedua, dalam kaitannya  dengan pengelompokkan orang yang bertaqlid itu.
Dalam pandangan ulama fiqih, bahwa hukum syara’ dibagi kepada persoalan yang menyangkut dengan aqidah atau disebut dengan ushûl al-‘ammah (pokok-pokok ajaran keimanan) dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan furû’iyah yaitu yang menyangkut amalan praktis.
ITTIBÂ’
Secara bahasa ittibâ’  terambil dari akar kata “اتـبع – يـتـبـع – اتـبـاع” yang berarti mengikuti. Adapun menurut istilah sebagai dijelaskan oleh Wahbah Zuhaili[1] adalah sebagai berikut ;
وامـاالاتـبـاع فـهـوسـلوك الـتـابـع طريـق الـمـتـبوع وأخذ الـحـكـم مـن الد لـيـل بـالـطريـق الـتى أخـذ بـهـا متبوعه، فـهـوا تـبـاع للـقـائـل على أســاس مـا اتـضح لـه مـن د لـيـل عــلى صـحـة قـولـه.
Artinya ; Cara yang ditempuh seorang pengikut sesuai dengan cara yang dilakukan oleh orang yang diikuti serta mengambil / menetapkan hukum dari dalil-dalil yang jelas-jelas ia ketahui tingkat kesahannya.
Selanjutnya, dalam Ensiklopedi Hukum Islam, disebutkan bahwa yang dikatakan ittibā’ itu ialah mengikuti pendapat Imam-imam mujtahid dengan mengetahui dalil-dalilnya yang pendapat tersebut. Misalnya apabila mengambil pendapat Imam Abu Hanifah bahwa tidak batal wuduk seorang laki-laki yang bersentuhan kulit dengan seorang wanita, maka harus mengetahui alasan yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah dalam mendukung pendapatnya.
Sebaliknya, apabila seseorang laki-laki mengikuti pendapat Imam Syafe’i yang mengatakan bahwa wuduk seseorang batal apabila bersentuhan kulit dengan wanita maka ia harus mengetahui dalil yang dipergunakan Imam Syafei dalam mendukung pendapatnya itu. Menurut jumhur ulama ushul cara seperti ini disebut dengan ittibā’. Dengan demikian, jelaslah bahwa perbedaan antara taqlîd dan ittibā’. Taqlîd mengikuti pendapat imam mujtahid tanpa mengetahui alasan dalilnya. Sedangkan ittibā’ ialah mengikuti suatu pendapat imam Mujtahid dengan mengetahui alasan dalil serta sumber pengambilannya. Dalam pandangan Wahbah Zuhaili bahwa ittibā’  itu sesungguhnya adalah mengikuti suatu pendapat (al-qaul) dengan mengetahui hujjah serta dalil yang melandasi hujjah tersebut.








KEHUJJAHAN AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG
Arus globalisasi yang semakin dinamis telah mengubah arah pemikiran manusia. Tak hanya arah pemikiran manusia yang berubah seiring berjalannya masa, tapi pandangan hidup dan sumber hukum yang selama ini mereka pegang teguh pun kini berubah alur sesuai apa yang mereka pikirkan dan inginkan. Banyak orang yang sudah kehilangan pegangan hidupnya karena perubahan masa yang semakin lama semakin kebarat-baratan. Teknologi semakin maju, namun akidah akhlaq manusia semakin bobrok.
Di sinilah kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber dari segala sumber hukum harus lebih ditegakkan. Mematuhi apa yang telah ada dalam kalam Allah dan meninggalkan apa yang telah dilarang dalam Allah. Hukum dalam Al-Qur’an sangat tegas dan bersifat pasti, tak ada manusia yang mampu mengelakkan hukum Allah yang telah termaktub dalam kalam-Nya. Oleh karena itu manusia harus sadar untuk apa mereka diciptakan. Dalam makalah ini akan dijelaskan Al-Qur’an sebagai sumber dari segala hukum yang ada di muka bumi ini.

  1. RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam?
2.      Bagaimana hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an?

  1. TUJUAN
1.      Untuk mengetahui Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam
2.      Untuk mengetahui hukum yang terkandung dalam Al-Quran








BAB II
PEMBAHASAN

A.    AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER HUKUM
Kumpulan kalam Allah yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril as sebagai mukjizat dan dipandang ibadah bagi ang membacanya menurut sebagian para ulama dalam mengartikan Al-Qur’an.[1]
Imam Hasan Al-Banna pula menyatakan, “Al-Quran Karim  adalah kitab Allah Tabaraka wa Taala yang berisi tentang orang-orang sebelum kamu, khabar tentang orang-orang sesudah kamu dan hokum yang ada di antara kamu. Al-Quran adalah kata putus, bukan senda gurau. Barangsiapa yang meninggalkannya dengan sombong, dia akan dibinasakan Allah SWT. Siapa yang mencari petunjuk selain dari Al-Qur’an, dia akan disesatkan Allah SWT. Al-Qur’an adalah tali Allah yang kukuh, cahya-Nya yang terang benderang dan peringatan-Nya yang bijaksana. Al-Qur’an adalah Siratul Mustaqim (jalan lurus). Ia tidak dapat dipalingkan hawa nafsu, tidak dapat dikaburkan lisan dan tidak dapat dicerai-beraikan pendapat. [2]
Dr. Maurice di dalam bukunya La Press Francaise Romene menulis, “Kita berani menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah buku yang pernah diwahyukan oleh Tuhan kepada rasul seluruh umat. Al-Qur’an memuat puji-pujian kepada Pencipta Langit dan Bumi, serta mengagungkan Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim. Al-Qur’an dapat dipandang sebagai sumber ilmu oleh para ilmuwan, buku kamus bagi ahli etimologi, buku tatabahasa bagi ahli bahasa, kumpulan syair bagi pujangga dan ensiklopedia hukum dan perundangan. Sesungguhnya, tiada sebuah buku pun sebelum Al-Qur’an yang setaraf walau hanya sepotong suratnya.” [3]
Tujuan Al-Qur’an berkisar pada tiga poros, yaitu : akidah (apa yang kita yakini?), ibadah (bagaimana kita menyembah apa yang kita yakini?), dan cara hidup (bagaimana cara hidup yang dikehendaki Allah pada kita?).[4]
Secara etimologi kata hokum (al-hukm) berarti “mencegah” atau “memutuskan”. Menurut terminologi Ushul Fiqh, hokum (al-hukm) berarti :
“Kitab (kalam) Allah yang mengatur amal perbuatan orang mukalaf, baik berupa Iqtidla (perinntah, larangan, anjuran untuk melakukan atau anjuran untuk meninggalkan), takhyir (kebolehan bagi orang mukallaf untuk memilih antara melakukan dan tidak melakukan), atau Wadl (ketentuan yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau mani’ [penghalang].”
Kalam Allah sebagai sifatnya adalah al-kalam al nafsi (kalam yang ada pada diri Allah) yang tidak mempunyai huruf dan suara. Sedangkan kita hanya bias mengetahui kalam nafsi itu melalui kalam lafzi, yaitu kalam yang mempunyai huruf dan suara yang terbentuk dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an merupakan dalil (petunjuk) kepada kalam nafsi Allah. Dari segi ini, ayat-ayat Al-Quran popular dikenal sebagai dalil-dalil hukum karena merupakan petunjuk kepada hukum yang dikandung oleh kalam nafsi Allah. Oleh karena yang dapat dijangkau oleh manusia hanyalah kalam lafzi Allah dalam bentuk ayat-ayat Al-Qur’an, maka popular di kalangan ahli-ahli Ushul Fiqh bahwa yang dimaksud dengan hukum adalah teks-teks ayat hukum itu sendiri yang mengatur amal perbuatan manusia.[5]
Al-Qur’an dalam kajian Ushul Fiqh merupakan objek pertama dan utama pada kegiatan penelitian dalam memecahkan suatu hukum.[6]
“Fiqh bagaikan lautan yang tidak diketahui tepinya” ungkapan yang dikemukakan oleh Muhammad jawad Mughniyah. Ungkapan demikian dapat dimaklumi karena fiqh memiliki pola hubungan yang amat rumit, berkembang dalam jangka yang sangat panjang, menyebar dan berpengaruh di berbagai kawasan dan komunitas Muslim.
Kini fiqh memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan Muslim di seluruh dunia. Ia dikaji melalui berbagi jalur; diapresiasi sebagai warisan intelektual dan rujukan perilaku; diinternalisasi ke dalam berbagai pranata social; dan dan ditransformasi ke dalam produk badan penyelenggara Negara. Dalam konteks umat Islam Indonesia, fiqh, di samping tasauf, menjadi inti kebudayaan; dan pesantren menjadi pusat orientasi cultural.
Untuk memahami dan menjelaskan fiqh yang rumit itu, membutuhkan cara kerja yang runtut, akurat, dan tepat. Tahap awal untuk menuju ke arah itu, diperlukan pemilahan. Pertama, posisi fiqh sebagai salah satu dari suatu kesatuan system hokum islam (Islamic law System) yang mencakup berbagai unsur yang saling menunjang, di antaranya beberapa dimensi atau wujud hukum Islam yang terstruktur secara hirarkis, yakni dimensi syari’ah, dimensi fiqh, dan dimensi amal. Kedua, gugusan fiqh secara internal, sebagai suatu kesatuan, mencakup sumber dan dalil yang dijadikan rujukan, kaidah dan prinsip yang dianut, tokoh dibalik pengembangan fiqh, perspektif yang digunakan, produk penalaran yang terdokumentasi dalam berbagai kitab, pengkajian dalam berbagai rujukan, kaidah dan prinsip yang dianut, tokoh dibalik pengembangan fiqh, dokumentasi dalam berbagai kitab, pengkajian dralam berbagai lingkungan, internalisasi ke dalam berbagai pranata social, rujukan dalam memenuhi kebutuhan hidup, dan transformasi ke dalam produk badan penyelenggara Negara. Ketiga, penyusunan dan perumusan model penelitian pada berbagai penyusunan dan perumusan model penelitian pada berbagai pilihan tersebut, untuk memahami dan menjelaskan fiqh utama dalam tulisan ini, yang diuraikan secara rinci dalam pembahasan lebih lanjut. [7]

a)      Al-Qur’an Sesuai Dengan Fakta Sejarah
Dalam surat Yunus ayat 90-92, al-Qur’an menyatakan bahwa pada suatu saatnanti mayat Fir’an yang tenggelam sewaktu mengejar Nabi Musa akan dikembalikan kepada manusia (dapa disaksikan oleh mata) untuk menjadi bukti kebenaran ayat-ayat Allah.[8]
Ayat ini turun kepada Rasulullah SAW. 2100 tahun sesudah zaman Fir’aun, sedangkan didalam Tauratmaupun Injil tidak pernah disebutkan bahwa “tubuh Fir’aun” akan diselamatkan sebagai tanda kepada generasi mendatang. Setelah turunnya ayat ini, Rasulullah mendapatejekan dari orang-orang yang mengingkarinya, karena kaum musyrikin tidak dapat mempercayai bahwa tubuh Fir’aun, yang sudah berusia ribuan tahun akan tetap utuh
Tapi demikianlah kehendak Allah SWT. Setelah lebih 4000 tahun Fir’aun mati, namun tepat pada 6 Juli 1879, mayat Fir’aun telah ditemukan di dalam Piramid, dan masih dalam keadaan utuh.
Disamping cerita Fir’aun masih banyak lagi fakta-fakta sejarah didalam al-Qur’an yang terungkap; diantaranya yang terakir ialah pada awal tahun 1992 ditemukan runtuhan bangunan kuno di jazirah Arab, yang ditengarai sebagai peninggalan bangsa ‘Ad (Iran) yang disebutkan al-Qur’an d daam surah Al-Fajr ayat 7-8.[9]

b)      Al-Qur’an adalah Kebenaran Yang Nyata
Semua yang telah kita pelajari sejauh ini memperlihatkan kiat akan satu kenyataan pasti : al-Qur’an adalah kitab yang didalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Inji merupakan bukti nyata bahwa al-Qur’an bukanlah perkataan manusia.[10]
Al-Qur’an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam al-Qur’an.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”(Q 4:82)
Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satuna petunjuk hidup.

B.     Hukum-hukum Yang Terkandung Dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai petunjuk hudup secara umum mengandung 3 ajaran pokok:[11]
1)   Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan kaidah (keimanan) yang membicarakan tentang hal-hal yang wajib diyakini, seperti masalah tauhid, masalah kenabian, mengenai kitab-Nya, Malaikat, hari Kemudian dan sebagainya yang berhubungan dengan doktrin ‘akidah.
2)   Ajaran-ajaran yang berhubungan dengan akhlak, yaitu hal-hal yang harus dijadikan perhiasan diri oleh setiap mukallaf berupa sifat-sifat keutamaan dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membawa kepada kehinaan.
3)   Hukum-hukum amaliyah, yaitu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan amal perbuatan mukalaf. Dari hukum-hukum amaliyah inilah timbul dan berkembangnya ilmu fikih, hukum-hukum amaliyah dalam al-Qur’an terdiri dari dua cabang, yaitu hokum-hukum badah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dan hokum-hukum mu’amalat yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya.

Ø  Abdul Wahhab Khallaf merinci macam hukum-hukum bidang mu’amalat dan jumlah ayatnya sebagai berikut:
1)      Hukum keluarga, mulai dari terbentuknya pernikahan sampai masalah talak, rujuk, ‘iddah, dan sampai msalah warisan. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 70 ayat.
Surat al-Baqarah ayat 234
Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila elah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS.al-Baqarah/234)
2)      Hukum mu’amalat (perdata), yaitu hukum-hukum yang  mengatur hubungan seseorang dengan sesamanya, seperti jual beli, sewa menyewa, gadai menggadai, utang piutang, dan hokum perjanjian. Hokum-hukum jenis ini mengatur hubungan perorang, masyarakat, hal-hal yang berhubungan dengan harta kekayaan, dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing. Ayat-ayat yang mengatur hal ini terdiri dari 70 ayat.
Contoh: surat an-Nisa’ ayat 29
“Hai orang-orang  yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu memmbunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa’/29)
3)      Hukum jinayat (pidana), yaitu hokum-hukum yang menyangkut dengan tindakan kejahatan. Hukum-hukum seperti ini bermaksud untuk memelihara stabilitas masyarakat, seperti larangan membunuh serta sanksi hukumnya, larangan menganiaya orang lain, berzina, mencuri, serta ancaman hokum atas pelakunya. Ayat-ayat yang mengatur hal ini sekitar 30 ayat.
Surat al-Maidah ayat 90
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka  jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS.al-Maidah/90)
4)      Hukum al-murafa’at (acara), yaitu hokum-hukum yang berkaitan dengan peradilan, kesaksian, dan sumpah. Hokum-hukum seperti ini dimaksudkan agar putusan hakim dapat seobjektif mungkin, dan untuk itu diatur hal-hal yang memungkinkan untuk menyingkap mana pihak yang benar dan mana yang salah. Ayat-ayat yang mengatur hal ini berjumlah sekitar 13 ayat.
5)      Hukum ketatanegaraan, yatiu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pemerintahan. Hukum-hukum seperti ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan penguasa dengan rakyat, dan mengatur hak-hak pribadi dan masyarakat. Ayat ayat yang berhubungan dengan masalah ini sekitar 10 ayat.
An-Nahl ayat 90
Sesungguhnya Allah menuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, member kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS.an-Nahl/90)
6)      Hukum antara bangsa (internasional), yaitu hukum-hukum yang mengatur hubungan antara Negara islam dengan non islam, dan tata cara pergaulan dengan non muslim yang berada di Negara islam. Ayat-ayat yang mengatur hal ini sekitar 25 ayat.
Al-Hujarat ayat 13
Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulai diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.al-Hujarat/13)
7)      Hukum ekonomi dan keuangan, yaitu hukum-hukum yang mengatur hak-hak fakr miskin dari harta rang-orang kaya. Hukum-hukum semacam ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan keuangan antara orang yang berupaya dan orang-orang yang tidak berupaya, dan antara Negara dan perorangan. Ayat-ayat yang mnegatur bidang ini sekitar 10 ayat.
Ø Dari segi rinci atau tidaknya, ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an, Muhammad Abu Zahrah menjelaskan sebagai berikut :
a.       Ibadah. Ayat-ayat hukum mengenai ibadah dikemukakan dalam Al-Qur’an dalam bentuk mujmal (global) tanpa merinci kaifiyat-nya, seperti perintah shalat, zakat, haji, puasa.
b.      Kaffarat (denda). Kaffarat adalah denda yang bermakna ibadah, karena merupakan penghapus bagi sebagian dosa. Ada tiga bentuk kaffarat yang disinggung dalam Al-Qur’an, yaitu : Kaffarat Zihar, Kaffarat karena melanggar sumpah dan Kaffarat karena membunuh orang mukmin secara tersalah.
c.       Hukum Muamalat. Dalam bidnag ini Al-Qur’an hanya memberikan prinsip-prinsip dasar, seperti larangan memakan harta orang lain secara tidak sah dan keharusan adanya rela sama rela.
d.      Hukum Keluarga. Hukum bidang ini mencakup bidang-bidang rumah tangga dan mawaris.
e.       Hukum Pidana. Di samping ada larangan melakukan kejahatan secara umum, bidang ini juga secara khusus menjelaskan hukum berbagai tindakan kejahatan yang bisa mengguncang bangunan masyarakat.
f.       Hukum yang mengatur hubungan penguasa dengan rakyat jelata.
g.      Hukum yang mengatur hubungan orang-orang Islam dengan non-muslim.




BAB III
KESIMPULAN

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diberikan kepada umat pilihan-Nya yakni Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, dan orang yang membacanya bernilai ibadah. Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan tentang berbagai macam kejadian sebelum adanya muka bumi bahkan sampai suatu saat bumi ini akan musnah, semuanya telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an juga menjadi sumber hukum dari segala hukum yang ada di mukan bumi. Tak ada satu kitab apapun yang bisa menandingi Al-Quran.
Al-Qur’an hidup dan menguasai, membimbing hidup manusia. Al-Qur’an akan mendidik dan memimpin hati menuju kebaikan karena demikianlah fitrah manusia yang soleh dan bergunan bagi umat manusia lainnya.[12] Apapun yang dilakukan manusia harus berdasarkan hukum yang ada dalam Al-Quran. Secara jelas hukum yang ada bersumber pada Al-Qur’an. Seperti halnya hukum sholat, puasa, zakat, muamalat, dll.
Jadi jelaslah, umat manusia akan mencapai kemenangan hakiki jika mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup mereka, sebagaimana generasi Islam terdahulu yang telah mewarnai hidup mereka dengan corak Al-Qur’an, sehingga mereka dapat disebut “Al-qur’an hidup”. Dengan demikian Al-Qur’an hanya akan member makna sebagai panduan hidup di dalam individu, keluarga dan masyarakat sehingga terwujudnya individu Qur’ani, keluarga Qur’ani, dan masyarakat Qur’ani yang merealisasikan pesan-pesan mulia Al-Qur’an di dalam kehidupan mereka sebagaimana yang telah ditunjukkan dengan indahnya oleh generasi para Sahabat. 


[1] Lihat Dr. Shubhi Sholeh, Mabahits fi’Ulumil Qur’an, dan Dr. Shabir Thayyimah, haza al-Qur’an
[2] Muqaddimah fi Tafsir ma’a tafsir al-Fatihah wa awwalil Surah al-Baqarah, hal. 1
[3] DR. Hilmy Bakar Almascaty. Menjadi Muslim Modern Bersama Al-Qur’an. Hal. 10
[4] Amru Khalid. Pesona Al-Qur’an. Hal. 3
[5] Prof. Dr.H.Satria Effendi. Ushul Fiqh. Hal. 36
[6] Prof. Dr.H.Satria Effendi. Ushul Fiqh, hal. 79
[7] Cik Hasan Bisri. Model Penelitian Fiqh Jilid 1. Hal. 2
[8] DR. Hilmy Bakar Almascaty. Menjadi Muslim Modern Bersama Al-Qur’an. Hal. 19
[9] DR. Hilmy Bakar Almascaty. Menjadi Muslim Modern Bersama Al-Qur’an. Hal. 20
[10] Ibid. hal 30
[11] Ibid. Hal.92
[12] DR. Hilmy Bakar Almascaty. Menjadi Muslim Modern Bersama Al-Qur’an. Hal. 98