Rabu, 14 Desember 2011

AYAT- AYAT EKONOMI (TENTANG HUTANG)


I.                   PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk Allah SWT. mempunyai peran ganda yaitu sebagai hamba dan sebagai khalifah di bumi. Peran ganda tersebut jika dikelola dengan benar berdasarkan ketentuan Allah SWT., kehidupan manusia akan menjadi baik (dunia – akhirat) karena ihwal kehidupan manusia sangat ditentukan dari ketaatan mereka kepada Allah SWT. Aristatoles filosof Yunani (384 - 322 SM.) menyampaikan teori tentang  manusia. Manusia adalah “Zoon Politikon” yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan, atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama, lebih suka daripada hidup menyendiri[1]. Pertemanan tersebut dalam sosiologi diistilahkan sebagai relasi sosial (social relation). Sedangkan dalam fiqih dinamakan dengan muamalah.
Relasi atau interaksi sosial sebagai sebuah kebutuhan manusia, maka ketersediaan pedoman (worldview) untuk menjaga kebutuhan tersebut adalah sebuah keniscayaan. Untuk kepentingan itu, manusia membuat peraturan – peraturan berdasarkan keyakinan dan budaya mereka masing-masing. Manusia yang benar, menjadikan Al – Quran dan Hadis sebagai pedoman dalam mewujudkan keharmonisan ber-muamalah.
Kedua sumber tersebut berisikan tentang aqidah dan syari’ah yang kemudian syari’ah itu sendiri terdiri dari ibadah dan muamalah. Aqidah berkaitan dengan persoalan keimanan dan keyakinan manusia terhadap eksistensi Allah SWT. Ibadah berkaitan dengan pengabdian manusia sebagai hamba kepada Allah SWT. Sedangkan muamalah merupakan ajaran yang berkaitan dengan interaksi manusia dengan yang lain dalam memenuhi kebutuhan masing-masing.
Konsep muamalah yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadis adalah seluruh tindakan manusia tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, mengutamakan kemaslahatan umum, kesamaan hak dan kewajiban serta melarang berbuat curang dan melarang berperilaku tidak bermoral di antara satu dengan yang lain. Peraturan muamalah seperti itu salah satunya terdapat dalam ayat 282 dari surat Al-Baqarah yang mengatur tentang hutang piutang. Untuk mengetahui bagaimana peraturan hutang piutang dari ayat tersebut dan sejauhmana dampak aturan itu terhadap kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, dalam kajian ini penulis akan menafsirkan ayat 282 dari surat Al-Baqarah  secara mendalam.



A.    Rumusan Masalah

1.      Kenapa Allah SWT. memerintahkan pencatatan dan kesaksian dalam transaksi utang piutang?
2.      Kenapa kesaksian dua wanita di mata Allah SWT. sama dengan satu lelaki?
3.      Sejauhmana dampak manajemen utang piutang tersebut terhadap kehidupan manusia?

B.     Tujuan dan Manfaat
     Tujuan
Secara umum, tujuan pemakalah dalam penulisan makalah ini adalah untuk menerapkan Ayat Ekonomi tentang hutang agar kita bisa mengerti, memahami dan menjalani kehidupan yang lebih baik, tertata, dan memandang kehidupan di masa depan.
     Manfaat
Dalam setiap penulisan makalah, tentu terdapat manfaat yang dapat pemakalah peroleh baik secara praktis maupun secara teoritis. Manfaat teoritis yang amat terasa pada pemakalah, yaitu memahami Ayat tentang hutang dan menerapkan yang baik dalam setiap pemikiran kita dalam setiap aspek kehidupan. Sedangkan manfaat praktis yang dapat pemakalah peroleh yaitu sebagai mahasiswa dapat terjun langsung ke lapangan untuk menerapkan secara tepat dan tidak menyimpang dalam setiap persoalan pada semua aspek kehidupan terutama di lingkungan masyarakat, bangsa, dan Negara kita yang telah merdeka ini.










II.                POKOK BAHASAN
            Untuk kepentingan kajian tentang konsepsi ber-muamalah  yang tertuang dalam Al-Quran dalam tulisan singkat ini akan penulis tafsirkan QS. Al – Baqarah ayat 282 yang berisikan tentang manajemen utang piutang. Dalam penafsiran ini, menafsirkan ayat tersebut tidak hanya merujuk kepada penafsiran yang sudah ada, dalam hal ini tafsir Ibnu Katsir.  Akan tetapi untuk memahami lebih dalam ayat dimaksud, menafsirkan dengan melibatkan disiplin ilmu pengetahuan sosiologi, psykologi, akuntansi dan fiqih. Dengan pendekatan sisi positif bagi manusia dari manajemen utang piutang yang tersurat dalam Al-Quran bisa dibuktikan secara ilmiah[2]. Ayat 282 Al-Quran surat  Al – Baqarah:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/67745_448104312857_203164362857_5504759_7407473_n.jpg

Artinya adalah sebagai berikut :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan utang-piutang (ber-muamalah tidak secara tunai) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan adil. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Ayat yang terpanjang dalam al-Qur’an adalah ayat 282 dari surah al-Baqarah dan yang dikenal oleh para ulama dengan nama Ayat al-Mudayanah [ayat utang-piutang]. Ayat ini, antara lain, berbicara tentang anjuran atau kewajiban menuliskan soal utang-piutang dan mempersaksikannya di hadapan notaris, sambil menekankan perlunya menulis utang, walau sedikit, disertai dengan jumlah dan ketetapan waktunya.
Uraian al-Qur’an tersebut dipaparkan setelah uraian-Nya tentang anjuran bersedekah dan berinfak [QS al-Baqarah: 271-274] kemudian disusul dengan larangan melakukan transaksi riba [QS al-Baqarah: 275-279], serta anjuran untuk memberi tangguh yang tidak mampu membayar utangnya sampai mereka mampu atau bahkan menyedekahkan sebagian atau semua utang itu [QS al-Baqarah: 280].
Penempatan uraian tentang utang-piutang setelah anjuran dan larangan di atas, mengandung makna tersendiri. Anjuran bersedekah dan melakukan infak di jalan Allah merupakan pengejawantahan dari rasa kasih sayang yang murni. Selanjutnya, larangan riba merupakan pengejawantahan dari kekejaman dan kekerasan hati. Dengan perintah menuliskan utang-piutang yang dapat memelihara harta dari kehilangan, tecermin keadilan yang didambakan al-Qur’an, sehingga lahir jalan tengah antara rahmat murni yang diperankan oleh sedekah dengan kekejaman yang diperagakan oleh yang melakukan riba.

Utang-mengutangi dalam kehidupan umat manusia adalah sesuatu yang wajar, bahkan merupakan keniscayaan. Bukan saja utang antarmanusia, hubungan manusia dengan Allah pun nyaris digambarkan dengan hubungan utang-piutang. Kata “utang” dalam bahasa al-Qur’an adalah dain, sedangkan “agama” –dan demikian juga “pembalasan”– dinamai dîn. Keduanya terdiri dari tiga huruf –dâl, yâ’, dan nûn. Menurut pakar-pakar bahasa, rangkaian ketiga huruf tersebut menggambarkan hubungan antara dua pihak yang satu kedudukannya lebih tinggi daripada yang lain. Agama adalah hubungan antara manusia dengan Allah. Kedudukan manusia jauh lebih rendah daripada Allah. Demikian juga hubungan yang memberi utang, dan yang memberi balasan, dibandingkan dengan yang menerimanya[3].
Manusia berutang kepada Allah. Bukankah sedemikian banyak nikmat-Nya yang telah diterima manusia? Seharusnya manusia “membayar” utang-utang tersebut, namun karena dia tidak mampu, dia datang kepada-Nya menyerahkan diri. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrâhîm yang lurus?” [QS an-Nisâ’: 125]. Karena itu, Ibrâhîm as. menamai kita dan pengikut-pengikutnya sebagai Muslim [orang-orang yang menyerahkan diri [QS al-Hajj: 78].
Kehadiran manusia menyerahkan diri kepada-Nya adalah bukti pengakuan tentang utangnya, sekaligus bukti kesediaan untuk membayarnya sesuai kemampuan. Inilah sikap terbaik dari seorang yang berutang, apalagi yang tidak mampu membayarnya. Bersyukurlah bahwa kemurahan Ilahi sedemikian besar, sehingga pada haji wada’ [haji perpisahan] yang berlangsung pada 9 Dzulhijjah 12 Hijriah, Allah “memproklamasikan”: “Hari ini telah Kusempurnakan agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam [penyerahan diri] menjadi agamamu [QS al-Mâ’idah: 4].
Kita dapat berkata bahwa dari kata dîn yang diterjemahkan dengan “agama” dan yang seakar dengan kata “utang”, tersirat darinya bahwa keberagamaan menuntut “pembayaran utang” kepada Allah. Namun, karena kita tidak mampu maka Islam [yang berarti “penyerahan diri”] itulah pembayaran utang. Tentu saja, saat Anda menyerahkan diri, Anda harus tunduk mengikuti sepenuhnya perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan dalam keadaan demikian, Anda tidak memiliki sesuatu apa pun.
Ayat yang berbicara tentang utang-piutang di atas, antara lain, berpesan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan transaksi tidak secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya” [QS al-Baqarah: 282]. Penggalan kalimat “untuk waktu yang ditentukan” bukan saja mengisyaratkan bahwa ketika berutang harus ditentukan masa pelunasannya, dan bukan dengan berkata, “Kalau saya ada uang” tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa ketika berutang, sudah harus tergambar dalam benak bagaimana serta dari mana sumber pembayaran yang akan diandalkan oleh yang berutang. Ini secara tidak langsung mengantarkan sang Muslim untuk berhati-hati dalam berutang. Sedemikian keras tuntutan kehati-hatian, sampai-sampai Nabi Saw enggan menshalati mayat yang berutang dan tidak ada yang menjamin utangnya [HR. Abû Dâwûd dan an-Nasâ’î]. Selain itu semua, Nabi Saw bahkan bersabda, “Diampuni bagi syahid semua dosanya kecuali utang” [HR. Muslim dari ‘Amr bin al-Ash].

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/165323_174170915947601_104956206202406_440378_4210992_n.jpg
Artinya Sebagai Berikut :
Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."
Tuntunan agama melahirkan ketenangan bagi pemeluknya, sekaligus harga diri. Karena itu, agama tidak menganjurkan seseorang berutang, kecuali jika sangat terpaksa. “Utang adalah kehinaan di siang hari dan keresahan di malam hari,” demikian sabda Rasul Saw. Seseorang yang tidak resah karena memiliki utang atau tidak merasa “risih” karenanya, maka dia bukan seorang yang menghayati tuntunan agama. Salah satu doa Rasul Saw yang populer adalah “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utang yang memberatkan serta penekanan manusia terhadapku.”
Di sisi lain, beliau bersabda, “Penangguhan pembayaran utang oleh yang mampu adalah penganiayaan” [HR. Bukhârî dan Muslim]. Anda jangan berkata bahwa, jika demikian, pengusaha Muslim yang tidak memiliki modal memadai tidak dapat mengembangkan usahanya.
Janganlah berkata demikian, karena Islam mengajarkan antara lain bentuk musyarakah atau mudarabah dalam usaha pengembangan harta, di mana dua pihak atau lebih dapat menggabung hartanya, atau yang satu bekerja dan yang lain memodali, dan keuntungannya mereka bagi sesuai dengan kesepakatan bersama[4].
III.             ASBAB AN-NUZUL
Ulama sepakat, bahwa ayat-ayat Al-Quran yang turun tidak semuanya memiliki asbab an-nuzul. Berdasarkan kesepakatan ulama tersebut, pengertian asbab an-nuzul adalah sebab-sebab (peristiwa) yang melatari turun ayat-ayat Al-Quran.
Pengertian tersebut di atas penulis pahami dari pengertian asbab an-nuzul yang didefinisikan oleh kalangan ulama baik al-Zarqani, Manna Al-Qaththan serta Dr.M.Quraisy Syihab. Istilah “SEBAB” di sini, tidak sama pengertiannya dengan istilah “SEBAB” yang dikenal dalam hukum kausalitas. Karena adanya asbab an-nuzul untuk ayat-ayat tertentu lebih bersifat penampakan hubungan kebijaksanaan antara Allah SWT. sebagai pemberi petunjuk dengan manusia yang diberi petunjuk.
Mengetahui asbab an-nuzul dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran akan membantu para mufassir dalam memahami maksud dari sebuah ayat Al-Quran. Pandangan demikian maskipun redaksi yang berbeda dinyatakan juga oleh al-Syatibi, al-Wahidi, Ibn Daqiq al-Id, Ibn Taymiyah, al-Sayuti.
Sebagai contoh manfaat dari mengetahui asbab an-nuzul adalah menghilangkan kemusykilan dalam memahami terhadap maksud ayat. Kesukaran dalam memahami maksud ayat pernah dialami oleh Marwan bin Hakam tentang kemusykilan Marwan dalam memahami ayat 188 QS. Ali-Imran yang artinya : “ Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih”.
Kesukaran Marwan dari ayat itu adalah bagaimana mungkin orang yang bergembira dengan apa yang telah diperbuatnya dan senang dipuji atas apa yang tidak diperbuatnya, lalu disiksa oleh Allah?.
Akan tetapi ketika Marwan mengetahui asbab an-nuzul ayat tersebut melalui Ibn ‘Abbas, kesukaran Marwan tersebut terjawab. Asbab an-nuzul ayat dimaksud adalah berkaitan dengan pertanyaan Rasulullah SAW. kepada orang-orang Yahudi dan mereka tidak menjawab pertanyaan Rasulullah SAW.  bahkan mereka menceritakan apa yang tidak ditanyakan Rasulullah SAW. Mereka mengira bahwa tindakan mereka itu menimbulkan respek Rasulullah SAW. (marah) kepada mereka sehingga mereka merasa gembira dengan sikap tersebut.
Kesepakatan ulama sebagaimana tersebut di atas bahwa tidak semua ayat dalam Al-Quran memiliki asbab an-nuzul salah satunya terbukti dengan ayat 282 yang tersurat  dalam QS. Al-Baqarah. Ayat tersebut turun bukan dilatari dari suatu peristiwa sebagaimana pengertian asbab an-nuzul itu sendiri. Tapi bila dipahami bahwa Al-Quran turun sebagai hidayah dan berisi pesan-pesan moral, maka setiap ayat yang turun tidak kosong dari asbab an-nuzul. Begitu juga halnya dengan ayat 282 dalam QS. Al-Baqarah.
IV.             Manajemen Utang Piutang (QS. Al-Baqarah Ayat 282) :
      Sebuah Konsep Sosial (muamalah) Dalam Islam
Manusia dalam hidup dan kehidupannya tidak dapat melepaskan diri dari hidup berkelompok yang demikian sudah terlihat semenjak manusia itu lahir. Pakar sosiologi Ellwood menyatakan; kehidupan sosial harus dipandang sebagai satuan tabiat kejiwaan yang lebih tinggi dan lebih sesuai yang telah tumbuh dari satuan biologi.  
Unsur-unsur keharusan biologi manusia untuk hidup dan berkehidupan sosial dapat diketahui dari berbagai macam pendekatan di antaranya ialah;  kebutuhan untuk perlindungan; kebutuhan untuk makan; kebutuhan untuk berkembang biak; dan kebutuhan untuk bermasyarakat. Memenuhi kebutuhan tersebut, manusia dengan segenap potensi yang ada berupaya memperoleh kebutuhan mereka berdasarkan kemampuan masing-masing. Hal demikian teridentifikasi dari hasil usaha manusia yang variatif dan berimplikasi kepada tingkatan sosial mereka. Tingkatan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia akan menyebabkan kebaikan bagi mereka jika satu dengan yang lain saling mengisi dan tidak saling menzalimi. Konsep sosial seperti itulah yang diatur dalam Al-Quran untuk terjaga keharmonisan sosial sebagai kebutuhan dasar bagi umat manusia[5].
Perbedaan tingkatan sosial manusia antara lain adalah terjadi dalam aspek perekonomian. Perbedaan itulah yang melatari perbuatan utang piutang kerap terjadi dalam kehidupan manusia. Al-Quran sebagai pedoman umat Islam menjelaskan secara rinci tentang perbuatan tersebut yaitu pada ayat 282 dari surat Al-Baqarah.  Dalam penafsiran ini, tadaayantum diartikan dengan muamalah karena  utang piutang merupakan perbuatan sosial manusia yang di dalamnya terlibat debitor (pemberi utang) dan kreditor (orang yang berutang). Ayat tersebut, Allah SWT. menuntun hamba-Nya yang mukmin, jika mereka bermuamalah hutang piutang hendaknya ditulis supaya jelas jumlahnya, waktunya, dan memudahkan untuk persaksian.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan hutang piutang yang terjamin, jelas masanya dan telah dihalalkan oleh Allah SWT. Beliau juga mengatakan, ketika Rasulullah SAW sampai di kota Madinah dijumpai di sana orang biasa meminjamkan buah untuk setahun, dua tahun atau tiga tahun, maka Rasulullah SAW. bersabda, artinya : “ Barangsiapa meminjamkan harus meminjamkan dengan takaran yang tertentu, timbangan yang tertentu dan masa yang tertentu. (HR. Bukhari – Muslim).


Pada akhir ayat di atas “hendaklah kamu menuliskannya”, Ibnu Katsir memahami perintah menulis di sini hanya merupakan petunjuk ke jalan yang baik dan terjaminnya keselamatan yang diharapkan, bukan perintah wajib. Ibnu Juraij berkata, “pada mulanya perintah menulis itu wajib, kemudian kewajiban itu di-nasakh dengan ayat 283 QS. Al-Baqarah artinya : “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercaya itu menunaikan amanatnya (hutangnya)”. Di akhir ayat tersebut nyata bahwa tidak ada tulis menulis lanjut Ibnu Juraij[6].
BOLEHKAH BERHUTANG?
Tidak ada keraguan lagi bahwa menghutangkan harta kepada orang lain merupakan perbuatan terpuji yang dianjurkan syari’at,dan merupakan salah satu bentuk realisasi dari hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Baragsiapa yang melapangkan seorang mukmin dari kedurhakaan dunia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melapangkan untuknya kedukaan akhirat” Para ulama mengangkat permasalahan ini, dengan memperbandingkan keutamaan antara menghutangkan dengan bersedekah. Manakah yang lebih utama? Sekalipun kedua hal tersebut dianjurkan oleh syari’at, akan tetapi dalam sudut kebutuhan yang dharurat, sesungguhnya orang yang berhutang selalu berada pada posisi terjepit dan terdesak, sehingga dia berhutang. Sehingga menghutangkan disebutkan lebih utama dari sedekah, karena seseorang yang diberikan pinjaman hutang, orang tersebut pasti membutuhkan. Adapun bersedekah, belum tentu yang menerimanya pada saat itu membutuhkannya.
Ibnu Majah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata kepada Jibril : “Kenapa hutang lebih utama dari sedekah?” Jibril menjawab, “Karena peminta, ketika dia meminta dia masih punya. Sedangkan orang yang berhutang, tidaklah mau berhutang, kecuali karena suatu kebutuhan”. Akan tetapi hadits ini dhaif, karena adanya Khalid bin Yazid Ad-Dimasyqi. Adapun hukum asal berhutang harta kepada orang lain adalah mubah, jika dilakukan sesuai tuntunan syari’at. Yang pantas disesalkan, saat sekarang ini orang-orang tidak lagi wara’ terhadap yang halal dan yang haram. Di antaranya, banyak yang mencari pinjaman bukan karena terdesak oleh kebutuhan, akan tetapi untuk memenuhi usaha dan bisnis yang menjajikan.
Hutang itu sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, hutang baik. Yaitu hutang yang mengacu kepada aturan dan adab berhutang. Hutang baik inilah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; ketika wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berhutang kepada seorang Yahudi dengna agunan baju perang. Kedua, hutang buruk. Yaitu hutang yang aturan dan adabnya didasari dengan niat dan tujuan yang tidak baik.



V.                KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penafsiran penulis tentang ayat 282 surat Al-Baqarah tentang manajemen utang piutang. Kesimpulan yang dapat penulis sarikan adalah sebagai berikut :
I. Asbab An-Nuzul
1. Didasarkan kepada pengertian asbab an-nuzul yaitu peristiwa – peristiwa (sebab) diturunkan sebuah ayat, maka untuk ayat 282 surat Al-Baqarah adalah tidak memiliki asbab al-nuzul.
2. Akan tetapi, bila dipahami bahwa Al-Quran turun sebagai hidayah dan berisi pesan-pesan moral, maka setiap ayat yang turun tidak kosong dari asbab al-nuzul. Begitu juga halnya dengan ayat 282 surat Al-Baqarah.
II. Manajemen utang piutang :
1. Transaksi utang piutang wajib dicatat jika ke dua belah pihak (kreditor dan debitor) merasa diperlukan untuk itu.
2. Pencatatan utang piutang dicatat oleh para ahli dibidang tersebut. Dan untuk kondisi sekarang pencatatan transaksi utang piutang dilakukan bisa dilakukan di kantor notaris.
3.  Dalam pencatatan utang piutang, kedua belah pihak wajib menghadirkan dua orang saksi laki - laki berdasarkan persetujuan. Akan tetapi, jika saksi yang dihadirkan terdiri dari saksi laki-laki dan saksi wanita, maka para pihak wajib menghadirkan satu orang saksi dari laki-laki dan dua orang saksi dari wanita. Karena kesaksian dua wanita adalah sebanding dengan kesaksian satu lelaki.
4.  Menghadirkan kesaksian tidak hanya diperintahkan pada transaksi utang piutang. Akan tetapi menghadirkan kesaksian juga diperintahkan dalam jual beli tunai.
II. Implikasi manajeman utang piutang bagi manusia
  1. Terpelihara kehidupan sosial manusia sebagai sebuah kebutuhan dasar bagi mereka.
  2. Menjunjung tinggi hak dan kewajiban manusia dengan tidak mereduksi sifat-sifat kemanusiaan.  
  3. Berdasarkan point 1 dan 2 di atas bahwa, manajemen utang piutang dalam Al-Quran merupakan sebuah konsep sosial bagi manusia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusian (humanis). Konsep sosial demikian membuktikan bahwa, kandungan Al-Quran adalah sebuah kebenaran yang absolut dan Al-Quran menjadi pedoman hanyalah bagi manusia yang bertakwa. Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA
v Syahid Mu’ammar Pulungan, Manusia Dalam Al Quran, Surabaya : PT.Bina Ilmu, cetakan pertama, 1984
v Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Jakarta : Gaya Media Pratama
v Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, Surabaya : PT. Bina Ilmu, cetakan keempat, 2004



[1] Syahid Mu’ammar Pulungan, Manusia Dalam Al Quran, Surabaya : PT.Bina Ilmu, cetakan pertama, 1984, hlm. 58.
[2] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Jakarta : Gaya Media Pratama, t.t., hlm. ix.
[3] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Jakarta : Gaya Media Pratama.
[4] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, Jakarta : Gaya Media Pratama.
[5] Syahid Mu’ammar Pulungan, Manusia Dalam Al Quran, Surabaya : PT.Bina Ilmu, cetakan pertama, 1984.
[6] Syahid Mu’ammar Pulungan, Manusia Dalam Al Quran, Surabaya : PT.Bina Ilmu, cetakan pertama, 1984.

Tidak ada komentar: